Inan Kito. Diberdayakan oleh Blogger.

Optimis "Berani Mengubah"





Hari senin, tepatnya tanggal 22 April 2013, Saya sengaja bermain ke toko buku yang terletak di Jalan Supratman, samping tempat saya kerja. Setelah berputar-putar mengelilingi sudut-sudut toko buku mata saya tertarik dengan buku  berjudul "BERANI MENGUBAH" Karya Pandji .  Buku bersampul hitam dengan tulisan judul berwarna merah yang sangat jelas. Singkat cerita, saya memilih untuk membeli buku ini.

Kalau menurut saya, isi dari buku ini bener-bener mengajak orang Indonesia, terutama kalangan anak muda untuk tidak berdiam diri.

"Memang saya bisa apa? Saya tidak punya kekuasaan. Saya cuma pelajar/orang biasa"
Dalam buku Berani Mengubah, Pandji bener-bener "nyentil" orang yang punya pemikiran kayak gitu.

Di awal-awal, Pandji coba mengajak untuk mengenal Indonesia dulu, sebelum kita mengubah Indonesia ke hal yang positif. Yang Saya suka dari salah satu tulisan di buku itu kayak gini

"Banyak orang Indonesia yang pakai batik, kain asli Indonesia, sepatu asli Indonesia, tapi korupsi dan mengambil hak orang lain masih tetep dilakukan.
Ya..........., cinta dengan Indonesia bukan hal simbolis aja ternyata.

Menurut saya, buku Berani Mengubah juga kayak buku pelajaran. Bab pertama, kedua, dan ketiga itu diisi dengan judul politik, ekonomi, dan hukum. Saya baru belajar memahami untuk hal-hal ini, karena selama ini saya cuma belajar tentang pendidikan. Ini hal baru buat saya :-D
Ada lagi yang menarik dari buku ini, Pandji membandingkan pemerintahan orde baru dengan pemerintahannya SBY. Terus Pandji juga memberikan pendapatnya tentang FPI dan ateisme di Indonesia.

Di setiap akhir bab Berani Mengubah, Pandji menantang pembacanya untuk melakukan perubahan. Banyak pemuda yang selalu mempertanyakan kemajuan bangsanya. Padahal semua sejarah di dunia bilang hal yang sama, perubahan itu diawali oleh pemudanya :-)

----------------------------------------------------------------------------------------
  
BERANI MENGUBAH

Penulis : Pandji Pragiwaksono
Penyunting : Nurjannah Intan
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah halaman : 212 halaman
Harga : Rp 39.000
ISBN : 978-602-8811-96-5
 
TENTANG PENULIS
Pandji Pragiwaksono adalah seorang stand-up comedian, presenter, penyanyi, penulis buku, dan seorang pemuda yang sangat cinta Indonesia. Setelah NASIONAL.IS.ME dan Merdeka dalam Bercanda, Pandji rupanya semakin bersemangat untuk meniupkan virus cinta tanah air. Baginya, untuk menciptakan perubahan, pemuda harus terus bergerak dan melakukan sesuatu, sekecil apa pun. Pandji juga senang membagikan ide dan pemikirannya dalam tulisan lewat www.pandji.com. Buku ini adalah buku ketiganya yang diterbitkan bersama Bentang Pustaka.

Cara Membrantas Nyamuk yang Ramah lingkungan (Non-insektisida)

Terima kasih atas kunjungan sahabat pada posting kali ini, walaupun sekarang lagi panas-panasnya berbincang tentang Ujian Nasional izinkan kami berbagi topik lain, Yaitu tentang cara membrantas nyamuk sebagai vektor pembawah penyakit malaria, Demam berdarah, chikunya, kaki gajah dan lain-lain. berikut cara membrantas nyamuk dengan cara Non Insektisida

Bahan :
- 200 ml air panas.
- 50 gram gula merah.
- 1 gram ragi roti.
- 1 botol bekas plastik 2 liter.


Caranya:
1. Potong botol plastik (jenis PET) separuh.
2. Campurkan gula merah dng air panas hingga lebur. Stelah dingin tuangkan di separuh bagian bawah botol   bagian dinding dalamnya hingga rata.
3. Tambah RAGI. Tidak perlu diaduk nanti akan menghasilkan Karbon Dioksida sbg PENARIK PERHATIAN nyamuk.
4. Letakkan bagian corong, terbalik, kedalam separuh botol tadi.
5. Bungkus botol dng sesuatu yg berwarna hitam (isolasi), dan letakkan di beberapa sudut rumah, toko, sekolah, rumah sakit, ladang dll. ( Terlindung hujan )
6. Biarkan skitar 2 minggu atau nyamuk sdh penuh silahkan cuci botolnya dan mulai lg dr awal.

ide : dr Giena Hadi


#TAMBAHAN :
---------------
1. Agar ngga dirubungi SEMUT letakan botol tsb diatas mangkuk/kaleng berisi air.
2. Kalo nangkap LALAT cara masih sm diatas tapi ngga usah pake RAGI cukup umpan ikan mentah yg busuk dipotong kecil dimasukin botol tsb OK.
3. Letakan botol jauh terlindung dr hujan atau angin.

Soal UN dan Lika Liku Kecurangan "DEMI MEMBANTU SISWA"


Terima kasih atas kunjungan sahabat Inan kito ke blog ini, kali ini kami ingin sharing seputar Ujian Nasional. Mungkin sahabat setuju kalau Ujian Nasional baik untuk tolak ukur kualitas pendidikan indonesia secara kognitif. Tapi sangat di sayangkan banyak beberapa pihak melakukan kecurangan yang sangat terorganisir dengan alasan membantu siswa. Nah kali ini izinkan kami shaering tulisan dari  Group Keluarga Besar UPI yang di posting oleh Ibu Rosa Ariani Sukamto pada tanggal 27 Maret 2013 Pukul 5.22 am ( Original post dari Rinaldi Munir Disini )
=================================================================

Tim Sukses UN: Beban Moral, Hina di Depan Siswa

Isteri saya seorang guru fisika, di bilangan Jakarta Barat. Ia diperintahkan kepala sekolah menjadi anggota TIM SUKSES UN.

Tugasnya sangat sederhana. Buka soal UN dan kerjakan. Lalu, tutup lagi soalnya. Kunci jawaban disebarkan ke siswa.

Modus itu berjalan sempurna. Tim Sukses berisi gabungan beberapa sekolah dalam satu rayon atau lintas rayon. Semua anggota tim diberi tugas berbeda. Ada yang mendapatkan lembar soal, membuka, mengelem, menjawab setiap soal, dan mendistribusikan jawaban, menyiapkan ruangan dan mengamankannya, dan bekerja sama dengan pengawas, reguler atau independen, dll.

Tahun pertama, isteri saya hanya bertugas menjawab soal saja. Dosa sih, tapi tidak memalukan. Niat membantu siswa, entahlah apa niat ini lazim atau dibuat-buat, pokoknya "jawab soal cepat." Bagian mendistribusikan jawaban bukan tugasnya. Alhamdulillah.

Tahun kedua, nah ini sudah dosa dan sekaligus memalukan. Duduk sebagai pengawas di ruang kelas, sekaligus mendistribusikan jawaban ke siswa. Caranya bisa berbagai macam. Bisa menyuruh siswa ke toilet dan di toilet sudah disediakan selembar kertas berisi jawaban dengan kode "bagikan ke temenmu." Ada juga melalui sms sebelum masuk ke ruangan. Kadang bagikan saja di ruang kelas. Pengawas juga maklum. Mereka juga "anggota jaringan Tim Sukses UN."

Isteri saya kerap saya mintai "jawaban via sms." Saya hanya ingin memastikan "kebocoran soal dan menyebarnya kunci jawaban" seperti dilansir media itu benar atau tidak. Setelah dikirimi kunci jawaban, saya baru yakin "oh media memang benar."
Bahkan menurutnya, kunci jawaban itu didistribusikan oleh wakil kepala sekolah bagian kurikulum. Distribusi
Kunci jawaban ini terencana sistematis dan bersifat masif.

Biasanya Mendikbud atau staf-stafnya bicara, "kunci jawaban itu palsu." Saya tersenyum saja membaca statemen itu. Kita buktikan di akhir UN saja atau saat kelulusan tiba. Tingkat kelulusan siswa di DKI Jakarta tidak pernah turun dari angka 95% (bisa dicek lagi kebenarannya). Itu artinya kebocoran soal menyumbang persentase menggembirakan dalam meraih kelulusan siswa, kelulusan UN siswa di DKI Jakarta.

Ini di DKI. Ibu Kota Republik Indonesia. Kota besar. Kota yang menjadi barometer segalanya secara nasional. Bagaimana di Ende, Larantuka, Maybrat, Dogiyai, Janeponto, Banggai, Banggai Kepulauan, dan masih banyak lagi. Indonesia, negeri dengan ribuan pulau, pada hari ujian nasional itu secara masif menyebarkan ketidakjujuran, masif dan serempak. Kebohongan massal.

Isteri saya adalah alumni pondok pesantren di Langitan, Tuban. Latar belakang inilah yang membuat beban moral, perasaan menanggung dosa, memberi efek yang sangat dalam. Setiap bertemu siswa yang pernah diberi kunci jawaban, ia merasa terhina. "Sepertinya, jadi guru sudah tidak berharga di mata siswa," katanya.

Tuhan, ampunílah isteriku. Isteriku mengerti menyebarkan kunci jawaban itu perbuatan tidak terpuji. Tetapi, apa daya. Ia diperintahkan kepala sekolahnya. Kepala sekolah mungkin diperintah kepala dinasnya. Kepala dinas mungkin diperintah gubernurnya, gubernur diperintah dirjennya. Dirjen mungkin diperintah menterinya dan menteri diperintah presiden dan presiden mungkin saja diperintah orang tua siswa, dan orang tua siswa memerintah kepala sekolah, kepala sekolah akhirnya memerintah guru. Akhirnya, guru juga yang jadi muara segala perintah.

Habe

Revolusi Putih: Mengganyang Kebodohan, Mencerdaskan Bangsa!!

habe arifin